
Manusia selalu berupaya untuk menyingkap misteri alam semesta melalui berbagai hipotesis baru yang didasarkan pada berbagai metode ilmiah. Sebuah hipotesis yang kuat selalu berdasar pada hukum-hukum terdahulu dan ditentukan dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Hal ini juga berlaku pada hipotesis Teori Segalanya atau Theory of Everything yang awalnya dirintis oleh Albert Einstein. Teori ini dikembangkan untuk menyimpulkan semua hukum-hukum fisika yang telah ada menjadi satu hukum tunggal. Einstein berharap teori ini dapat menjelaskan semua interaksi fisika di alam semesta.
Alam semesta diketahui memiliki interaksi-interaksi dasar yang menjadi landasan terjadinya semua gerak. Ada empat interaksi dasar di alam semesta yang kita kenal sebagai gaya, yaitu gaya elektromagnetik, gaya lemah, gaya kuat dan gaya gravitasi. Gaya elektromagnetik menghasilkan interaksi listrik, magnet dan cahaya. Gaya lemah terjadi pada peluruhan radioaktif sedangkan gaya kuat mengikat proton-proton dan neutron-neutron dalam inti atom. Untuk menjelaskan ketiga jenis gaya ini kita dapat menganalisisnya menggunakan mekanika kuantum. Sedangkan untuk gaya terakhir, yakni gaya gravitasi dapat dijelaskan menggunakan teori relativitas umum Einstein.
Teori relativitas umum menggambarkan alam semesta sebagai hubungan antara materi dan geometri ruang-waktu (space-time). Fisikawan teoritis Amerika Serikat John Wheeler menjelaskan teori relativitas umum menjadi bentuk yang sederhana dalam satu kalimat, yakni, “Materi membuat ruang-waktu melengkung dan ruang-waktu membuat materi bergerak”. Kombinasi geometri-materi inilah yang kita rasakan sebagai gravitasi. Teori relativitas umum menjelaskan gaya-gaya pada skala makro, misalnya seperti peredaran planet, bintang dan galaksi. Sedangkan untuk memahami alam semesta pada ukuran mikro atau tingkat partikel maka kita menggunakan mekanika kuantum sebagai alat untuk menganalisisnya.
Ketika merintis teori segalanya, Einstein mencoba menggabungkan gaya gravitasi dan elektromagnetik karena dua gaya yang lain belum ditemukan orang pada saat itu. Einstein menghabiskan waktu 30 tahun untuk menurunkan teori ini tetapi tak kunjung berhasil karena maut lebih dulu menjemputnya. Walaupun demikian, cita-cita Einstein tetap hidup dan upayanya terus dilanjutkan oleh fisikawan-fisikawan lain sepeninggalnya. Sejauh ini ada dua kandidat utama yang bisa dijadikan sebagai Teori segalanya, yaitu Teori Model Baku (Standart Model) dan Teori Dawai (String Theory). Namun, hingga kini kedua teori tersebut belum dapat dibuktikan secara eksperimen. Karena itu, hukum fisika dan teori-teorinya masih dapat berubah.